Senin, 29 Agustus 2016

Cerpen " Hari Terakhirku Bersama Mentari Kecilku "

Hari Terakhirku Bersama Mentari Kecilku
Karya: Ahmad Naufal







            Hai perkenalkan namaku Bayu saat ini aku kuliah disebuah universitas di Jakarta dan aku mengambil jurusan kedokteran, dan ini adalah sebuah kisah yang telah ku alami. Hari ini adalah hari pertama untuk semester pertama aku kuliah di kampus ini. Setelah kuamati, besar juga kampus yang akan ku gunakan untuk menimba ilmu ini.
            Dan akupun memasuki sebuah ruangan kelas yang cukup panjang dengan jumlah murid 48 anak itu. Dan tiba – tiba seorang dosen  masuk di kelasku.
“ halo, selamat pagi anak-anak perkenalkan nama saya Agus kali ini saya tidak ingin mengajar kalian, tetapi saya hanya ingin kalian memperkenalkan diri , oke dimulai dari kamu! “ perintah guru itu.
“ Hai, perkenalkan namaku Muhammad Bayu Anugrah. Kalian dapat memanggilku Bayu. Terima kasih”.
“ Oke sekarang giliranmu “ lanjut guru itu
            Setelah semua memperkenalkan diri. Guru itupun memberikan waktu luang untuk hari pertama pelajaran, dan memberikan kesempatan untuk melakukan sesi tanya jawab. Dan KRINGGGGGGG. Bel pulang pun berbunyi.
            Aku pun keluar dari kelas , dan segera menuju tempat parkir. Dan tiba – tiba.
BRUAKKK
“ Eh, maafin aku ya. Biar aku bantuin”. Ucapku
“ Oh nggak apa-apa kok biar aku aja “. Ucap gadis itu
“ Udah tenang aja, ini kan salahku”. Ucapku
            Setelah aku selesai membantu gadis itu untuk merapikan bukunya. Tiba – tiba gadis itu pun pergi.
“ Hai, siapa namamu?”. Tanyaku
“ Mentari!”. Jawabnya singkat
“ Yee, pandangan pertama nih yee” . kata agus , seorang sahabatku
“ Apaan sih!”. Ucapku
“ Tapi cantik juga lho , bisa beruntung lho kalau dapat cewek seperti dia!”. Ucap agus
“Apaan sih, ya udah pulang yuk!”
            Akhirnya aku dan Agus pun pulang dengan mengendarai motorku, di jalan aku pun tidak berhenti memikirkan gadis itu.
            Akhirnya kami berdua sampai juga di sebuah komplek kontrakan, dan disanalah aku dan bagus tinggal.
                                    ------------ ESOKNYA -----------

            Hari ini adalah hari kedua aku kuliah, mungkin hari ini adalah hari efektif pelajaran. Aku dan Agus pun hendak berangkat ke kampus. Seperti biasa aku dan agus pun berangkat dengan mengendarai motor Honda CBR 250cc itu.
“ Gus cepetan , ini sudah hampir setengah delapan nih!”. Teriakku
“ Iya, tunggu sebentar!”. Ucap Agus
“ Udah lengkap belom buku-bukumu?”. Ucapku
“ Udah , tenang aja”. Ucap Agus

            Sesampainya di kelas akupun duduk ditempat dudukku. Dan pak Agus pun masuk dan memulai pelajaran pertama yaitu mengenal tubuh manusia.
            KRINGGGG. Bel istirahat pun berbunyi, aku dan bagus pun berjalan menuju kantin. Tiba- tiba , aku melihat Mentari duduk sendiri di area taman.
“Eh Gus kamu ke kantin dulu ya, aku mau samperin tuh cewek”. Ucapku
“Yee, ditinggalin dah. Yah udah jangan lama- lama!”. Ucap Bagus
“Iya-iya, aku nggak akan lama kok. Tenang aja!”. Ucapku

            Akupun segera menemui Mentari untuk meminta maaf. Dengan tergesah- gesah aku segera menghampirinya.
“ Hai!!”. Ucapku
“ Eh kamu, ada apa?”. Ucapnya
“ Enggak, aku disini cuma mau minta maaf atas kejadian kemarin!”. Ucapku
“ Oh itu, aku sudah maafin kamu kok. Oh ya nama kamu siapa?”. Ucapnya
“ Oh namaku Bayu , eh kamu disini masuk bidang apa?”. Tanyaku
“ Aku ikut  bidang pertanian, kalau kamu?”. Balasnya
“ Aku di bidang kedokteran”. Jawabku
“Wah hebat juga ya kamu!”. Pujinya
 “Terima kasih ya! Oh ya aku ke kantin dulu ya, kamu ikut nggak?. Tanyaku
“Enggak deh, aku disini aja!”. Balasnya
“Ya udah, aku tinggal ya!”. Ucapku
“iya”. Balasnya
            Akupun segera menuju kantin untuk membeli makanan dan minuman.
“ ngapain aja kok lama banget, pasti nembak tuh cewek ya?”. Ucap Bagus
“ Sok tau!”. Ucapku dengan kesal
“ Eh siapa nama tuh cewek, boleh dikenalin gak?”. Tanya Bagus
“ Mentari, kalo gak boleh kenapa?”. Godaku
“ Yah, kelakuan nih kalo dapet cewek cantik gak pernah bagi-bagi”. Balasnya
            Aku dan Bagus pun segera memasuki ruang kelas. Dan dikelas pelajaran dimulai seperti biasanya. KRINGGG!!!!!!, bel pulang pun berbunyi akupun bersama Bagus hendak pulang.
“ Eh Bay aku sekarang pulang duluan ya, soalnya aku mau pergi sama ortuku. Sorry banget yah!”. Kata Bagus
“ Ya udah kamu pulang dulu sono , entar bapakmu nunggu malah!”. Balasku
“ Ya udah, pulang dulu yah!”. Ucap Bagus

            Bagus pun pulang bersama bapaknya. Katanya dia hendak pergi ke Bandung, jadi nanti malam aku hanya tidur seorang diri di kos-kosan.
            Ketika hendak ke parkiran , aku melihat Mentari sedang duduk sendiri di taman. Segera kuhampiri dia.
“ Eh, kok kamu belum pulang?”. Tanyaku
“ Iya nih aku belum dijemput!”. Jawabnya
“ Bareng sama aku yuk!”. Ajakku
“ Lho bukannya kamu bareng sama temanmu itu?”. Tanyanya
“ Enggak, dia sudah pulang sama bapaknya. Ayo mau ikut nggak!”. Ajakku
“ Ya udah aku mau, maaf ya ngerepotin!”. Ucapnya
“ Udah, nggak ngerepotin kok!”. Balasku

            Tak kusia-siakan kesempatan ini aku pun segera mengantarnya pulang dengan mengendarai motorku ini.
“ Oh ya ngomong-ngomong rumah kamu dimana?”. Tanyaku
“Rumahku di komplek Melati, kalau kamu?”. Balasnya
“Kalau aku di kontrakan di komplek Melati?”. Ucapku
“Wah sama dong, jadi aku boleh ya main kontrakan kamu?”. Tanyanya
“Ya boleh dong, masak orang secantik kamu nggak boleh sih!”. Balasku

            Tanpa sadar aku telah sampai di depan rumah Mentari. Lalu segera aku antar Mentari sampai ke depan rumahnya.
“Makasih ya sudah antar aku sampai ke rumah!”. Ucapnya
“Sama-sama , ya udah aku pulang dulu ya!”. Pamitnya
            Akupun segera menendarai motorku , dan sampailah di kontrakanku. Sesampainya di kamarku aku segera melepas seragamku dan segera berbaring di tempat tidur yang kecil.
            TULALIT-TULALIT, suara handpone berbunyi akupun segera mengangkatnya.
“ Halo assalamualaikum, dengan siapa ini?”. Tanyaku
“waalaikum salam, ini aku Mentari!”. Jawabnya
“ Mentari , tumben kamu telfon?”. Tanyaku
“ Aku ada di depan kamar kamu nih, bisa dibukain nggak!”. Pintanya
“Oh ya sebentar ya!”. Jawabku
            Akupun segera menutup teleponku dan segera membukakan pintu.
“ Eh Melody , ayo masuk!”. Ajakku
“ Iya, terima kasih”. Ucapnya
            Dan akupun mengajak Mentari masuk.
“ Tumben nih main ke rumah?”. Tanyaku
“ Iya nih , aku sendirian dirumah”. Ucapnya
“ Ya kasihan, gimana kalau kita jalan-jalan aja? Entar dikira orang kita ngapain”. Ajakku
“ Iya deh!”. Jawabnya
            Akupun berkeliling-keliling kota Jakarta bersama Mentari, tujuan pertama kuajak dia ke Taman Impian Jaya Ancol.
“ Lho, kok kesini. Entar siapa yang bayarin?”. Tanya Mentari
“ Udah tenang aja, aku yang bayarin kok!”. Ucapku
“ Beneran?”. Tanyanya
“Iya, ayo masuk!”. Ajakku
            Aku pun masuk ke dalam wilayah Dufan. Dan wahana pertama yang akan kunaiki adalah Roller Coaster, dan tampaknya mentari ragu – ragu.
“ Ayo berani nggak?”. Tanyaku
“ Ayo, siapa takut?”. Ucapnya
“ Beneran nih, gak takut?”. Ejekku
“ Iya, ayo naik!”. Balasnya
           
            Akupun bersama Mentari menaiki Roller Coaster yang tingginya kira-kira 300meter itu.
“ Bay, yakin nih ini aman?”. Tanyanya
“ Katanya nggak takut?”.  Godaku
“ Ya, takut juga sih. Ya udah ayo naik!”. Pintanya

            Akupun bersama Mentari menaiki Roller Coaster itu. Kulihat ia berteriak ketakutan, karena laju Roller Coaster ini terbilang sangat cepat.
            Hampir 5 menit Roller coaster melaju dengan kencang, akhirnya selesai juga. Aku pun bersama Mentari turun, kulihat ia kelelahan.
“ Yah, baru gitu aja capek!”. Ledekku
“ Ih, resek. Pusing tau!”. Balasnya
“ Ya udah, kita jalan – jalan lagi yuk!”. Ajakku
“ Ya udah , ayuk!”. Balasnya

            Kamipun kembali berkeliling Dufan, memang taman hiburan ini menawarkan begitu banyak wahana yang memang patut dicoba. Setelah berkeliling dan mencoba berbagai permainan akhirnya kita menemukan satu wahana yang patut dicoba , yaitu wahana kincir angin.
“ gimana kalau kita naik wahana kincir angin itu, sekalian ada yang mau aku katakan ke                kamu”. Ajakku
“ Siip, seru juga tuh sambil menikmati sunset dari ketinggian. Ayo!”. Balasnya

            Bersama segera kunaiki kincir angin yang lumayan besar dan tinggi itu. Kami pun menikmati Sunset dari ketinggian yang membuat suasana semakin romantis, dan akupun berpikir bahwa inilah waktu yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku.
“ Bay, kalau dilihat dari atas kota Jakarta indah juga ya!”. ungkapnya
“ iya. Oh ya ada yang ingin ucapkan ke kamu!”. Ucapku
“Mau ucapin apa?”. Tanyanya penasaran
“S..sebenarnya aku sayang sama kamu, dan aku nggak mau kehilangan kamu!”. Ucapku
            Seketika setelah aku mengucapkan kata itu Mentari langsung menangis.
“Lho kenapa nangis!?”. Tanyaku panic
“ Enggak,sebenarnya , aku juga nggak mau kehilangan kamu!”. Jawabnya
“Tenang…. Kan aku ada disini. Sudah kamu jangan nangis!”. Ucapku
“Iya. Oh ya tadi di TV aku ngelihat ada audisi kontes musik, aku boleh ikut nggak?”. Pintanya
“Boleh, kan itu impian kamu!”. Jawabku
“Terima kasih ya Bay, kamu sudah bolehin aku”. Ucapnya
            Akhirnya komedi putar pun turun dan kami berdua turun, kami berdua pun memutuskan untuk makan malam di pinggir pantai ancol.
“Bay kamu, tunggu disini aja ya biar aku yang pesan makanan”. Pintanya
“Ya udah, hati-hati ya!”. Ucapku
            Mentari  segera memesan makanan. Tiba-tiba kulihat dua preman menghampirinya.
“ HAHAHA ada cewek cantik nih!”. Ucap preman pertama
“Iya nih, neng boleh minta uang nya gak buat makan!”. Kata preman kedua
“Apaan sih!”. Kata Mentari
            Akupun segera menghampirinya yang sedang diserang oleh kedua preman itu.
“Eh mau ngapain kamu!”. Ucapku
“Eh siapa loe, Pacarnya?”. Balas preman pertama
“Kalo iya kenapa?”. Tanyaku
“Wah udah mulai nantang loe, hajar aja Pren!”. Ancam preman kedua
“Sialan kamu, hyaaa……”. Ucapku
            Akupun mencoba menghajar preman itu. Pukulan pertama meleset, akupun tidak menyerah. Pukulan demi pukulan aku berikan, tapi hanya sedikit yang kena. Tak kuberi kesempatan, akhirnya aku sudah menemukan titik lemah preman itu. Satu orang sudah kalah.

“Sekarang mau ngapain lagi kamu!”. Ucapku
TIBA – TIBA preman kedua menikam punggungku dengan pisau
“AAAARGH!!”. Aku berteriak kesakitan
“Eh loe gak papa Pren, mending kita cabut aja!”. Ucap preman kedua
“Iya ayo cabut”. Ucap preman pertama
“Eh mau kemana kamu!”. Ucapku sambil menahan sakit akibat tusukan pisau yang masih menancap di punggungku
            Akupun segera menghapiri Mentari untuk memastikan dia baik - baik saja. Dengan menahan sakit, segera kuhampiri dia.
“Mentari kamu nggak papa kan!”. Tanyaku
i..iya aku nggak papa kok”. Jawabnya sambil menangis. Air matanya mengalir cukup deras, seperti awan hitam yang telah lama memendam kesedihan.
“Lho, kok nangis sih. Maafin aku ya, soalnya aku gak bisa ngelindungin kamu tadi”. Ucapku sambil menghilangkan air matanya.
“Nggak papa kok, oh ya kamu tunggu disini dulu aku cari bantuan dulu!”. Balasnya
“Terima kasih ya, sayang!”. Ucapku
“Ya udah kamu tunggu sini dulu yah!”. Balasnya
            Akupun melihat dari kejauhan Mentari sedang mencari bantuan. Tiba – tiba pandanganku menjadi buram, sedikit demi sedikit pandanganku menghitam dan pada akhirnya aku tak dapat merasakan apapun. Aku berpikir, apa yang akan dirasakan Mentari bila aku tidak ada disampingnya lagi. Ah.. sebuah bayang – bayang semu yang tak terlampiaskan.
            Tiba – tiba aku mendengar mentari sedang menangis disampingku, dan perlahan pengelihatanku mulai terang. Aku bersyukur atas semuanya, aku bersyukur jika aku tahu bahwa aku masih diberi kesempatan untuk berada disampingnya.
“ Di.. dimana aku?”. Tanyaku
“Kamu di rumah sakit Bay”. Jawab Bagus
“Loh.. Mentari mana??”. Tanyaku
“Tuh barusan keluar.  Mau dipanggilin?”. Jawab Bagus

            Saat itu kulihat dokter masuk ke ruanganku beserta seorang perawatnya.
“ Permisi, saya ingin menyampaikan sebuah berita. Yaitu maaf, kini usia tuan Bayu hanya sekitar satu minggu saja dikarenakan kedua paru-parumu telah rusak akibat tertikam pisau”. Ucap dokter.
            Bayang – bayang itu menghitam kembali, hatiku tak kuasa untuk menahan tangis. Tapi ku tak ingin melihatnya kembali menangis untuk diriku.
“Apa!!”. Ucap semua orang yang ada di ruangan ini.
“Bagus , tolong panggil Mentari masuk!”. Pintaku

            Mentari pun masuk kedalam ruanganku. Dengan wajah yang sedih Bagus menemani Mentari
“Ada apa Bayu!. Apa  ada yang ingin disampaikan?”. Tanya Mentari.
“Dokter bilang hidupku tinggal satu minggu lagi, dan aku ingin kamu temani aku disini!”. Ucapku
“Apa….! Apa kamu yakin , aku nggak percaya ini. Apapun caranya kamu harus tetap hidup Bay!”. Ucap Mentari sambil menagis.
“Sudahlah. Kamu jangan nangis nanti aku sedih nih!”. Ucapku
“Gimana nggak nangis. Aku kan nggak mau kehilangan kamu Bay!!”. Teriaknya.
“Udah tenang dulu ya!”. Ucapku

# SATU MINGGU KEMUDIAN #

Kata dokter, ini adalah hari terakhirku untuk menjalani hari. Dan benar saja kulihat dengan pengelihatan  yang sedikit buram, dokter sedang memeriksa detak jantungku yang sedikit demi sedikit menurun.
“Dok gimana ini! Denyut jantungnya semakin lemah!”. Ucap perawat itu
“Ada apa Dok?”. Tanyaku dengan lirih
“Maaf Tuan Bayu sepertinya detak jantungmu semakin melemah!”. Ucap dokter itu
“Oh, oh ya dok, nanti kalo sudah hampir tiba saatnya tolong panggil Mentari dan berikan surat ini ya!”. Pintaku
“Baik tuan! Saya akan melaksanakannya!”. Ucap dokter itu

# 1 JAM KEMUDIAN #  Pukul 09.00 pagi

            Tiba-tiba aku merasakan sakit yang amat sangat di bagian dadaku, sepertinya telah terjadi pendarahan. Sambil menahan rasa sakit segera ku tekan tombol darurat.
“Aaargh… sakitnya!”. Teriakku
“Tuan Bayu! Apa tuan Bayu tidak apa-apa. Suster kemari!”. Ucap dokter
“Detak jantungnya menurun Dok!”. Ucap Suster
“Dok panggil Mentari!”. Ucapku

            Dokter pun segera memanggil Mentari. Dan akhirnya ia pun masuk.
“Bayu! Ya ampun.. kamu nggak apa-apa Bay!”. Teriak Melody
“Iya Bay! Kata dokter detak jantung kamu semakin menurun!?”. Kata Bagus
“Sepertinya hidupku nggak lama lagi Gus! Tolong jaga Mentari ya! Aku nggak mau kalo dia kenapa-napa nanti! Aku tahu kamu tertarik kepadanya saat kamu melihatku berduaan dengannya. Aku tahu kamu itu cowok yang cukup baik untuk menemani hari – harinya. Jaga dia untukku ya”. Ucapku kepada Bagus.
“Ya ampun sayang.. kamu ngomong apa sih! Aku kan nggak mau ditinggal kamu! Optimis dong”. Kata Mentari sambil menangis.
            Sebenarnya aku tak kuasa meninggalkannya sendirian, namun saat yang tak ingin kunanti telah menghampiriku. Awan kesedihan mulai menutupi ruang inapku ini. Awan hitam yang memendam penderitaan yang cukup berat akhirnya turun hujan. Hujan yang amat deras yang diiringi nyanyian kesedihan.
“Aaargh!!”. Teriakku.
“Bayu!!!”. Ucap Bagus dan Mentari
“Oh iya Sayang aku sudah buat puisi buat kamu! Dok tolong berikan kepada mentari!”. Ucapku
“Baik Tuan!”
Dokter pun memberikan kertas berisi puisi :
Sebuah tawa sebuah cerita
Sebuah masa sebuah cinta
Sebuah hampa menelan rasa

Jaga baik – baik mentari kecilku
Ingatlah puisiku
Puisi hati tertutup pasir debu
          Dan perlahan pengelihatanku mulai menghitam, kulihat Mentari menangis sambil mengatakan :
 “Bayu jangan pergi aku masih sayang sama kamu dan aku gak mau sendirian tanpa kamu Bayu..”. Teriak Mentari
            Lalu aku tak dapat melihat apa-apa, dan hanya bisa mendengar kata terakhir dari Mentari.
“Bayu..aku sayang kamu!!! Hikks Hiks”. Teriak mentari sambil menangis.

TAMAT








Tidak ada komentar:

Posting Komentar