Hari
Terakhirku Bersama Mentari Kecilku
Karya: Ahmad
Naufal
Hai perkenalkan namaku Bayu saat ini
aku kuliah disebuah universitas di Jakarta dan aku mengambil jurusan
kedokteran, dan ini adalah sebuah kisah yang telah ku alami. Hari ini adalah
hari pertama untuk semester pertama aku kuliah di kampus ini. Setelah kuamati,
besar juga kampus yang akan ku gunakan untuk menimba ilmu ini.
Dan akupun memasuki sebuah ruangan
kelas yang cukup panjang dengan jumlah murid 48 anak itu. Dan tiba – tiba seorang
dosen masuk di kelasku.
“
halo, selamat pagi anak-anak perkenalkan nama saya Agus kali ini saya tidak
ingin mengajar kalian, tetapi saya hanya ingin kalian memperkenalkan diri , oke
dimulai dari kamu! “ perintah guru itu.
“
Hai, perkenalkan namaku Muhammad Bayu Anugrah. Kalian dapat memanggilku Bayu.
Terima kasih”.
“
Oke sekarang giliranmu “ lanjut guru itu
Setelah semua memperkenalkan diri.
Guru itupun memberikan waktu luang untuk hari pertama pelajaran, dan memberikan
kesempatan untuk melakukan sesi tanya jawab. Dan KRINGGGGGGG. Bel pulang pun
berbunyi.
Aku pun keluar dari kelas , dan
segera menuju tempat parkir. Dan tiba – tiba.
BRUAKKK
“
Eh, maafin aku ya. Biar aku bantuin”. Ucapku
“ Oh
nggak apa-apa kok biar aku aja “. Ucap gadis itu
“
Udah tenang aja, ini kan salahku”. Ucapku
Setelah aku selesai membantu gadis
itu untuk merapikan bukunya. Tiba – tiba gadis itu pun pergi.
“
Hai, siapa namamu?”. Tanyaku
“ Mentari!”. Jawabnya singkat
“
Yee, pandangan pertama nih yee” . kata agus , seorang sahabatku
“
Apaan sih!”. Ucapku
“
Tapi cantik juga lho , bisa beruntung lho kalau dapat cewek seperti dia!”. Ucap
agus
“Apaan
sih, ya udah pulang yuk!”
Akhirnya aku dan Agus pun pulang
dengan mengendarai motorku, di jalan aku pun tidak berhenti memikirkan gadis
itu.
Akhirnya kami berdua sampai juga di
sebuah komplek kontrakan, dan disanalah aku dan bagus tinggal.
------------
ESOKNYA -----------
Hari ini adalah hari kedua aku
kuliah, mungkin hari ini adalah hari efektif pelajaran. Aku dan Agus pun hendak
berangkat ke kampus. Seperti biasa aku dan agus pun berangkat dengan
mengendarai motor Honda CBR 250cc itu.
“
Gus cepetan , ini sudah hampir setengah delapan nih!”. Teriakku
“
Iya, tunggu sebentar!”. Ucap Agus
“ Udah
lengkap belom buku-bukumu?”. Ucapku
“
Udah , tenang aja”. Ucap Agus
Sesampainya di kelas akupun duduk ditempat
dudukku. Dan pak Agus pun masuk dan memulai pelajaran pertama yaitu mengenal
tubuh manusia.
KRINGGGG. Bel istirahat pun
berbunyi, aku dan bagus pun berjalan menuju kantin. Tiba- tiba , aku melihat Mentari duduk sendiri di area taman.
“Eh
Gus kamu ke
kantin dulu ya, aku mau samperin tuh cewek”. Ucapku
“Yee,
ditinggalin dah. Yah udah jangan lama- lama!”. Ucap Bagus
“Iya-iya,
aku nggak akan lama kok. Tenang
aja!”. Ucapku
Akupun segera menemui Mentari untuk meminta maaf. Dengan
tergesah- gesah aku segera menghampirinya.
“
Hai!!”. Ucapku
“ Eh
kamu, ada apa?”. Ucapnya
“
Enggak, aku disini cuma mau minta maaf atas kejadian kemarin!”. Ucapku
“ Oh
itu, aku sudah maafin kamu kok. Oh ya nama kamu siapa?”. Ucapnya
“ Oh
namaku Bayu , eh kamu disini masuk bidang apa?”. Tanyaku
“
Aku ikut bidang pertanian, kalau kamu?”.
Balasnya
“
Aku di bidang kedokteran”. Jawabku
“Wah
hebat juga ya kamu!”. Pujinya
“Terima kasih ya! Oh ya aku ke kantin dulu ya,
kamu ikut nggak?. Tanyaku
“Enggak
deh, aku disini aja!”. Balasnya
“Ya
udah, aku tinggal ya!”. Ucapku
“iya”.
Balasnya
Akupun segera menuju kantin untuk
membeli makanan dan minuman.
“
ngapain aja kok lama banget, pasti nembak tuh cewek ya?”. Ucap Bagus
“
Sok tau!”.
Ucapku dengan kesal
“ Eh
siapa nama tuh cewek, boleh dikenalin gak?”. Tanya Bagus
“ Mentari, kalo gak boleh kenapa?”.
Godaku
“
Yah, kelakuan nih kalo dapet cewek cantik gak pernah bagi-bagi”. Balasnya
Aku dan Bagus pun segera memasuki
ruang kelas. Dan dikelas pelajaran dimulai seperti biasanya. KRINGGG!!!!!!, bel
pulang pun berbunyi akupun bersama Bagus hendak pulang.
“ Eh
Bay aku sekarang pulang duluan ya, soalnya aku mau pergi sama ortuku. Sorry
banget yah!”. Kata Bagus
“ Ya
udah kamu pulang dulu sono , entar bapakmu nunggu malah!”. Balasku
“ Ya
udah, pulang dulu yah!”. Ucap Bagus
Bagus pun pulang bersama bapaknya.
Katanya dia hendak pergi ke Bandung, jadi nanti malam aku hanya tidur seorang
diri di kos-kosan.
Ketika hendak ke parkiran , aku
melihat Mentari
sedang duduk sendiri di taman. Segera kuhampiri dia.
“
Eh, kok kamu belum pulang?”. Tanyaku
“
Iya nih aku belum dijemput!”. Jawabnya
“
Bareng sama aku yuk!”. Ajakku
“
Lho bukannya kamu bareng sama temanmu itu?”. Tanyanya
“
Enggak, dia sudah pulang sama bapaknya. Ayo mau ikut nggak!”. Ajakku
“ Ya
udah aku mau, maaf ya ngerepotin!”. Ucapnya
“
Udah, nggak
ngerepotin kok!”. Balasku
Tak kusia-siakan kesempatan ini aku
pun segera mengantarnya pulang dengan mengendarai motorku ini.
“ Oh
ya ngomong-ngomong rumah kamu dimana?”. Tanyaku
“Rumahku
di komplek Melati, kalau kamu?”. Balasnya
“Kalau
aku di kontrakan di komplek Melati?”. Ucapku
“Wah
sama dong, jadi aku boleh ya main kontrakan kamu?”. Tanyanya
“Ya
boleh dong, masak orang secantik kamu nggak boleh sih!”. Balasku
Tanpa sadar aku telah sampai di
depan rumah Mentari.
Lalu segera aku antar Mentari sampai ke depan rumahnya.
“Makasih
ya sudah antar aku sampai ke rumah!”. Ucapnya
“Sama-sama
, ya udah aku pulang dulu ya!”. Pamitnya
Akupun segera menendarai motorku ,
dan sampailah di kontrakanku. Sesampainya di kamarku aku segera melepas
seragamku dan segera berbaring di tempat tidur yang kecil.
TULALIT-TULALIT, suara handpone
berbunyi akupun segera mengangkatnya.
“
Halo assalamualaikum, dengan siapa ini?”. Tanyaku
“waalaikum
salam, ini aku Mentari!”. Jawabnya
“ Mentari , tumben kamu telfon?”.
Tanyaku
“
Aku ada di depan kamar kamu nih, bisa dibukain nggak!”. Pintanya
“Oh ya sebentar ya!”. Jawabku
Akupun segera menutup teleponku dan
segera membukakan pintu.
“ Eh
Melody , ayo masuk!”. Ajakku
“
Iya, terima kasih”. Ucapnya
Dan
akupun mengajak Mentari masuk.
“
Tumben nih main ke rumah?”. Tanyaku
“
Iya nih , aku sendirian dirumah”. Ucapnya
“ Ya
kasihan, gimana kalau kita jalan-jalan aja? Entar dikira orang kita
ngapain”. Ajakku
“
Iya deh!”. Jawabnya
Akupun berkeliling-keliling kota
Jakarta bersama Mentari, tujuan pertama kuajak dia ke Taman Impian Jaya Ancol.
“
Lho, kok kesini. Entar siapa yang bayarin?”. Tanya Mentari
“
Udah tenang aja, aku yang bayarin kok!”. Ucapku
“
Beneran?”. Tanyanya
“Iya,
ayo masuk!”. Ajakku
Aku pun masuk ke dalam wilayah
Dufan. Dan wahana pertama yang akan kunaiki adalah Roller Coaster, dan
tampaknya mentari
ragu – ragu.
“
Ayo berani nggak?”. Tanyaku
“
Ayo, siapa takut?”. Ucapnya
“
Beneran nih, gak takut?”. Ejekku
“
Iya, ayo naik!”. Balasnya
Akupun bersama Mentari menaiki Roller Coaster yang
tingginya kira-kira 300meter itu.
“
Bay, yakin nih ini aman?”. Tanyanya
“
Katanya nggak takut?”. Godaku
“
Ya, takut juga sih. Ya udah ayo naik!”. Pintanya
Akupun bersama Mentari menaiki Roller Coaster itu.
Kulihat ia berteriak
ketakutan, karena laju Roller Coaster ini terbilang sangat cepat.
Hampir 5 menit Roller coaster melaju
dengan kencang, akhirnya selesai juga. Aku pun bersama Mentari turun, kulihat ia kelelahan.
“ Yah,
baru gitu aja capek!”. Ledekku
“
Ih, resek. Pusing tau!”. Balasnya
“ Ya
udah, kita jalan – jalan lagi yuk!”. Ajakku
“ Ya
udah , ayuk!”. Balasnya
Kamipun kembali berkeliling Dufan,
memang taman hiburan ini menawarkan begitu banyak wahana yang memang patut
dicoba. Setelah berkeliling dan mencoba berbagai permainan akhirnya kita
menemukan satu wahana yang patut dicoba , yaitu wahana kincir angin.
“ gimana
kalau kita naik wahana kincir angin itu, sekalian ada yang mau aku katakan
ke kamu”. Ajakku
“ Siip,
seru juga tuh sambil menikmati sunset dari ketinggian. Ayo!”. Balasnya
Bersama segera kunaiki kincir angin yang lumayan besar dan
tinggi itu. Kami pun menikmati Sunset dari ketinggian yang membuat suasana
semakin romantis, dan akupun berpikir bahwa inilah waktu yang tepat untuk
mengungkapkan perasaanku.
“
Bay, kalau dilihat dari atas kota Jakarta indah juga ya!”. ungkapnya
“
iya. Oh ya ada yang ingin ucapkan ke kamu!”. Ucapku
“Mau
ucapin apa?”. Tanyanya penasaran
“S..sebenarnya aku sayang sama
kamu, dan aku nggak mau kehilangan kamu!”. Ucapku
Seketika setelah aku mengucapkan kata
itu Mentari langsung menangis.
“Lho
kenapa nangis!?”. Tanyaku panic
“
Enggak,sebenarnya , aku juga nggak mau kehilangan kamu!”. Jawabnya
“Tenang….
Kan aku ada disini. Sudah kamu jangan nangis!”. Ucapku
“Iya.
Oh ya tadi di TV aku ngelihat ada audisi kontes musik, aku boleh ikut nggak?”. Pintanya
“Boleh,
kan itu impian kamu!”. Jawabku
“Terima
kasih ya Bay, kamu sudah bolehin aku”. Ucapnya
Akhirnya komedi putar pun turun dan
kami berdua turun, kami berdua pun memutuskan untuk makan malam di pinggir
pantai ancol.
“Bay
kamu, tunggu disini aja ya biar aku yang pesan makanan”. Pintanya
“Ya
udah, hati-hati ya!”. Ucapku
Mentari segera memesan makanan. Tiba-tiba kulihat dua
preman menghampirinya.
“
HAHAHA ada cewek cantik nih!”. Ucap preman pertama
“Iya
nih, neng boleh minta uang nya gak buat makan!”. Kata preman kedua
“Apaan
sih!”. Kata Mentari
Akupun segera menghampirinya yang sedang diserang oleh
kedua preman itu.
“Eh
mau ngapain kamu!”. Ucapku
“Eh
siapa loe,
Pacarnya?”. Balas preman pertama
“Kalo
iya kenapa?”. Tanyaku
“Wah
udah mulai nantang loe, hajar aja Pren!”. Ancam preman kedua
“Sialan
kamu, hyaaa……”. Ucapku
Akupun mencoba menghajar preman itu.
Pukulan pertama meleset, akupun tidak menyerah. Pukulan demi pukulan aku
berikan, tapi hanya sedikit yang kena. Tak kuberi kesempatan, akhirnya aku
sudah menemukan titik lemah preman itu. Satu orang sudah kalah.
“Sekarang
mau ngapain lagi kamu!”. Ucapku
TIBA
– TIBA preman kedua menikam punggungku dengan pisau
“AAAARGH!!”. Aku berteriak kesakitan
“Eh
loe gak papa Pren, mending kita cabut aja!”. Ucap preman kedua
“Iya
ayo cabut”. Ucap preman pertama
“Eh
mau kemana kamu!”. Ucapku sambil menahan sakit akibat tusukan pisau yang masih
menancap di punggungku
Akupun segera menghapiri Mentari untuk memastikan dia baik -
baik saja. Dengan menahan sakit, segera kuhampiri dia.
“Mentari kamu nggak papa kan!”. Tanyaku
“i..iya aku nggak papa kok”.
Jawabnya sambil menangis. Air matanya mengalir cukup deras, seperti awan hitam
yang telah lama memendam kesedihan.
“Lho,
kok nangis sih. Maafin aku ya, soalnya aku gak bisa ngelindungin kamu tadi”.
Ucapku sambil menghilangkan air matanya.
“Nggak
papa kok, oh ya kamu tunggu disini dulu aku cari bantuan dulu!”. Balasnya
“Terima
kasih ya, sayang!”. Ucapku
“Ya
udah kamu tunggu sini dulu yah!”. Balasnya
Akupun melihat dari kejauhan Mentari sedang mencari bantuan. Tiba
– tiba pandanganku menjadi buram, sedikit demi sedikit pandanganku menghitam
dan pada akhirnya aku tak dapat merasakan apapun. Aku berpikir,
apa yang akan dirasakan Mentari bila aku tidak ada disampingnya lagi. Ah..
sebuah bayang – bayang semu yang tak terlampiaskan.
Tiba – tiba aku mendengar mentari sedang menangis disampingku,
dan perlahan pengelihatanku mulai terang. Aku bersyukur atas semuanya, aku
bersyukur jika aku tahu bahwa aku masih diberi kesempatan untuk berada
disampingnya.
“ Di.. dimana aku?”. Tanyaku
“Kamu di rumah sakit Bay”. Jawab Bagus
“Loh.. Mentari mana??”. Tanyaku
“Tuh barusan keluar. Mau
dipanggilin?”. Jawab Bagus
Saat itu kulihat dokter
masuk ke ruanganku beserta seorang perawatnya.
“ Permisi, saya ingin menyampaikan sebuah berita. Yaitu maaf, kini usia
tuan Bayu hanya sekitar satu minggu saja dikarenakan kedua paru-parumu telah
rusak akibat tertikam pisau”. Ucap dokter.
Bayang – bayang itu
menghitam kembali, hatiku tak kuasa untuk menahan tangis. Tapi ku tak ingin
melihatnya kembali menangis untuk diriku.
“Apa!!”. Ucap semua orang yang ada di ruangan ini.
“Bagus , tolong panggil Mentari masuk!”. Pintaku
Mentari pun masuk
kedalam ruanganku. Dengan wajah yang sedih Bagus menemani Mentari
“Ada apa Bayu!. Apa ada yang ingin
disampaikan?”. Tanya Mentari.
“Dokter bilang hidupku tinggal satu minggu lagi, dan aku ingin kamu
temani aku disini!”. Ucapku
“Apa….! Apa kamu yakin , aku nggak percaya ini. Apapun caranya kamu harus
tetap hidup Bay!”. Ucap Mentari sambil menagis.
“Sudahlah. Kamu jangan nangis nanti aku sedih nih!”. Ucapku
“Gimana nggak nangis. Aku kan nggak mau kehilangan kamu Bay!!”.
Teriaknya.
“Udah tenang dulu ya!”. Ucapku
# SATU MINGGU KEMUDIAN #
Kata dokter, ini adalah hari terakhirku untuk menjalani hari. Dan benar
saja kulihat dengan pengelihatan yang
sedikit buram, dokter sedang memeriksa detak jantungku yang sedikit demi
sedikit menurun.
“Dok gimana ini! Denyut jantungnya semakin lemah!”. Ucap perawat itu
“Ada apa Dok?”. Tanyaku dengan lirih
“Maaf Tuan Bayu sepertinya detak jantungmu semakin melemah!”. Ucap
dokter itu
“Oh, oh ya dok, nanti kalo sudah hampir tiba saatnya tolong panggil
Mentari dan berikan surat ini ya!”. Pintaku
“Baik tuan! Saya akan melaksanakannya!”. Ucap dokter itu
# 1 JAM KEMUDIAN # Pukul 09.00 pagi
Tiba-tiba aku merasakan
sakit yang amat sangat di bagian dadaku, sepertinya telah terjadi pendarahan.
Sambil menahan rasa sakit segera ku tekan tombol darurat.
“Aaargh… sakitnya!”. Teriakku
“Tuan Bayu! Apa tuan Bayu tidak apa-apa. Suster kemari!”. Ucap dokter
“Detak jantungnya menurun Dok!”. Ucap Suster
“Dok panggil Mentari!”. Ucapku
Dokter pun segera
memanggil Mentari. Dan akhirnya ia pun masuk.
“Bayu! Ya ampun.. kamu nggak apa-apa Bay!”. Teriak Melody
“Iya Bay! Kata dokter detak jantung kamu semakin menurun!?”. Kata Bagus
“Sepertinya hidupku nggak lama lagi Gus! Tolong jaga Mentari ya! Aku
nggak mau kalo dia kenapa-napa nanti! Aku tahu kamu tertarik kepadanya saat
kamu melihatku berduaan dengannya. Aku tahu kamu itu cowok yang cukup baik
untuk menemani hari – harinya. Jaga dia untukku ya”. Ucapku kepada Bagus.
“Ya ampun sayang.. kamu ngomong apa sih! Aku kan nggak mau ditinggal kamu!
Optimis dong”. Kata Mentari sambil menangis.
Sebenarnya aku tak
kuasa meninggalkannya sendirian, namun saat yang tak ingin kunanti telah
menghampiriku. Awan kesedihan mulai menutupi ruang inapku ini. Awan hitam yang
memendam penderitaan yang cukup berat akhirnya turun hujan. Hujan yang amat
deras yang diiringi nyanyian kesedihan.
“Aaargh!!”. Teriakku.
“Bayu!!!”. Ucap Bagus dan Mentari
“Oh iya Sayang aku sudah buat puisi buat kamu! Dok tolong berikan kepada
mentari!”. Ucapku
“Baik Tuan!”
Dokter pun memberikan kertas berisi puisi :
Sebuah tawa sebuah
cerita
Sebuah masa sebuah cinta
Sebuah hampa menelan
rasa
Jaga baik – baik mentari
kecilku
Ingatlah puisiku
Puisi hati tertutup
pasir debu
Dan
perlahan pengelihatanku mulai menghitam, kulihat Mentari menangis sambil
mengatakan :
“Bayu jangan
pergi aku masih sayang sama kamu dan aku gak mau sendirian tanpa kamu Bayu..”.
Teriak Mentari
Lalu
aku tak dapat melihat apa-apa, dan hanya bisa mendengar kata terakhir dari
Mentari.
“Bayu..aku sayang kamu!!! Hikks Hiks”. Teriak mentari
sambil menangis.
TAMAT

Tidak ada komentar:
Posting Komentar